Sabtu, 22 Maret 2014

KENCING MANIS, BISA SEMBUH ??


Kencing manis bisa sembuh ?
 hati - hati terpedaya iklan



 Saat ini banyak sekali iklan – iklan baik di media cetak maupun media elektronik yang menawarkan pelayanan kesehatan untuk penyembuhan berbagai jenis penyakit, salah satunya kencing manis. Lalu apakah benar kencing manis merupakan penyakit yang dapat disembuhkan ?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya kita mengenali terlebih dahulu seluk beluk penyakit kencing manis. 
         Didalam tubuh ada sebuah organ bernama Pankreas yang bertugas untuk memproduksi hormon insulin. Tugas hormon insulin sendiri adalah untuk mengantarkan makanan (zat gula) yang kita makan untuk dapat masuk kedalam sel agar dapat diubah menjadi energi yang akan digunakan oleh tubuh kita untuk beraktifitas dan bekerja. Bila diilustrasikan hormon insulin adalah anak kunci yang membawa zat gula, kemudian dipermukaan sel, insulin akan menempel pada reseptor insulin yang bertindak sebagai pintu masuk bagi zat gula. Insulin akan memberi rangsangan yang akan menyebabkan reseptor insulin terbuka dan zat gula dapat masuk ke dalam sel. Apabila jumlah insulin yang mengantarkan zat gula sedikit atau bahkan tidak ada, maka zat gula akan tetap berada didalam darah. Hal inilah yang mengakibatkan tingginya hasil pemeriksaan gula dalam darah, yang dikenal dengan sebutan penyakit kencing manis.
        Kencing Manis merupakan penyakit yang disebabkan karena adanya kelainan metabolik dimana tubuh tidak dapat atau kurang berhasil memproduksi insulin. Keadaan tersebut akan berlangsung seumur hidup. Sehingga untuk dapat mengantarkan zat gula kedalam sel, tubuh memerlukan bantuan insulin dari luar tubuh yaitu insulin buatan. Namun tidak semua penderita kencing manis memerlukan insulin buatan karena beberapa aktifitas dan obat – obatan tertentu juga dapat merangsang produksi insulin atau meningkatkan sensitifitas reseptor insulin dalam tubuh.
Berdasarkan jenisnya, Kencing manis digolongkan menjadi beberapa tipe, diantaranya :
1. Kencing manis tipe 1
Terjadi karena pankreas dalam tubuh sama sekali tidak dapat menghasilkan insulin. Akibatnya penderita kencing manis tipe 1 mutlak membutuhkan insulin buatan seumur hidupnya. Pada umumnya, kencing manis tipe ini diderita oleh anak – anak dan sangat sulit dideteksi.
 2. Kencing manis tipe 2

Pada tipe 2, pankreas masih dapat memproduksi insulin namun jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Dapat terjadi akibat adanya kerusakan pada Pankreas. Pada umumnya, diidap oleh orang dewasa dan berkaitan erat dengan pola hidup yang kurang sehat seperti asupan gizi yang melebihi kebutuhan tubuh (kegemukan), kurang olahraga, kebiasaan konsumsi makanan manis dan lain sebagainya.


Bagaimana pengobatan kencing manis...????
Tunggu posting berikutnya... 


Sumber : http://www.bpjs-kesehatan.go.id/infonya-136-kencing-manis-bisa-sembuh--hati--hati-terpedaya-iklan.html
Gambar : http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2013/04/25/4264309_20130425090724.JPG

Cerita Misteri "Mi Goreng...?"

MI GORENG...?

 Oleh : Dr. Djoko S

“Selamat malam dok, jaga malam ya?” sapa pak Nono kepada dr Andri.
”Iya pak, belum tidur?” balas dr Andri. Saat ini jam menunjukkan pukul 23.04 BBWI..
”Belum dok, mau ngantar pasien dulu ke RSCM, ada pasien dari Cempaka yang harus dirujuk” jelas pak Nono.
”Oo.., pasien yang sakit jantung itu ya? Berat pak, harus rawat ICCU, disini lagi penuh jadi harus dirujuk, barusan saya yang periksa”.
”Mungkin yang itu dok”.
”Ya udah pak, hati-hati ya.., saya harus cepetan ke Mawar, ada pasien yang harus diperiksa”.
”Silakan dok”.
Dokter Andri segera menuju ke bangsal Mawar. Di Rumah Sakit ini memang semua bangsal dinamai dengan nama bunga, entah apa maksudnya. Mungkin disini dulu adalah kebun bunga, jadi untuk mengenangnya semua bangsal dinamai dengan nama bunga atau mungkin yang mersmikan ini dulu menyukai bunga.
Malam ini juga pak Nono mengantar pasien ke RSCM yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang, orang sering menyebutnya dengan RSUT. Pak Nono adalah salah satu sopir ambulans di Rumah sakit ini, sudah lima belas tahun dia mengabdikan diri. Tidak hanya mengantar pasien dalam kota saja yang dia layani, luar kota, bahkan luar jawa pernah dia layani. Maklum, RSUT adalah Rumah Sakit Pemerintah tipe B dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat menjadikan Rumah sakit ini adalah Rumah sakit favorit di Tangerang bahkan dari luar Tangerang sekalipun. Begitu banyak pasien yang dirawat di RSUT ini, lihat saja sepanjang lorong rumah sakit di malam hari, banyak keluarga pasien yang tidur sembarangan. Sebenarnya mereka selalu diingatkan oleh pak Satpam, tetapi masih nekat juga. Satpamnya kurang galak kali ya?
Sepulangnya dari RSCM.
”Bim, bim....!” suara klakson mobil pak Nono dibunyikan.
“Bim. Bim....!”. Tidak biasanya pintu gerbang Kamboja ditutup.Kamboja adalah kamar jenazah. Hampair seluruh perawat, dokter maupun karyawan menyebutnya dengan paviliun Kamboja, memang dinamainya paviliun Kamboja, jadi kesan angker dan seram sedikit bisa dikurangi. Ada pula sebagian kecil yang menyebutnya kamar 174, kalau yang ini diambil dari nomer extensionnya.
”Bim....bim....!” kali ini diulangi dengan nada lebih panjang, dengan harapan ada orang yang mendengarnya. Tapi tetap saja tak ada orang yang menghampirinya. Dengan sangat terpaksa pak Nono turun dan membuka sendiri pintu gerbangnya, beruntung pintunya tidak dikunci.
”Aneh, pada kemana ini orang?” gumamnya dalam hati.
Pak Nono segera kembali ke mobil lalu memarkirnya di bawah pohon mangga, tempat biasanya dia memarkir mobil. Wajahnya tampak kusut, matanya sayu, dia tampak kecapekan sekali. Untung saja malam itu masih ada pedagang nasi goreng keliling yang mangkal.
”Jualan apa bang?” tanya pak Nono pada penjual.
”Tinggal mi goreng pak”, jawabnya.
”Satu aja bang, pedesnya sedeng, Sasanya dikit aja ya” pinta pak Nono. Memang dia tidak terlalu suka penyedap rasa, kalau kebanyakan penyedap rasa vertigonya kambuh dan badannya terasa pegal-pegal.
”Kopinya sekalian pak?” penjual menawarkan. Baru kali ini ada penjual mi goreng keliling menyediakan kopi. Mungkin ini adalah salah satu trik untuk memberikan pelayanan lebih kepada konsumen.
”Boleh, gulanya dikit aja” jawab pak Nono sambil masih duduk di mobilnya, sambil memencet-mencet tombol radio. Alunan lagu campursari megalun, sambil mengangguk anggukkan kepalanya pak Nono menikmatinya.
Tak lama kemudian mi goreng pun sudah siap.
”Nih pak mi gorengnya, ini kopinya”
”Terima kasih, abang baru jualan disini ya?”
”Iya pak, sebelumnya saya di perempatan Batuceper, di sana sepi, sapa tahu disini lebih rame”.
Tanpa menyia-nyiakan waktu pak Nono segera menyantap mi goreng yang dipesannya. Hanya dalam hitungan waktu 5menit 33detik habis sudah sepiring mi goreng dan segelas kopi dihadapannya.
“Udah bang” pak Nono mencoba memanggil penjualnya. Dia heran karena penjual dan gerobag dorongnya sudah ga ada di tempat, mungkin dia mau mangkal ke tempat lain, pikirnya. Dia tak mau ambil pusing, besuk pasti ketemu lagi. Sementara piring dan gelas dia taruh begitu saja di bawah jok mobilnya.
Setelah makan dan ngopi bukan kesegaran yang dia dapatkan, justru matanya semakin mengantuk. Diapun segera mengatur posisi untuk tidur, sudah menjadi kebiasaan dia tidur di mobil. Tak berapa lama dia sudah lelap tertidur.
__*__

Keesokan harinya.
”Brak, brak, brak!” suara pintu mobil pak Nono digedor.
”Subuh, subuh!”, teriak pak Murti, Satpam RSUT, dia adalah salah satu teman akrab pak Nono, apapun yang mereka lakukan tak pernah ada rasa marah sedikitpun diantaranya. Spontan pak Nono terbangun kaget, dia mengusap-usap matanya mencoba untuk melihat dengan jelas.
”Sialan luh, pelan dikit kenapa sih!?” pak Nono protes.
”Kalau pelan-pelan, takut ga kedengeran. Sudah kewajiban kita untuk saling mengingatkan kalau sudah masuk waktu sholat”, pak Murti berkelit.
”Pada kemana aja sih semalaman, pintu dikunci lagi”, keluh pak Nono.
”Nglindur nih orang, justru kita yang nanya, bapak kemana aja semalaman? Kecantol cewek ya?”, balas pak Murti.
”Pala lu peyang!, gue disini semalaman, habis ngrujuk pasien ga kemana-mana”, jelas pak Nono dengan sungguh-sungguh.
”Udah bangun dulu, mimpi kali yeee...!” pak Murti masih meledek. Karena dia yakin banget semalaman tidak ada mobil yang parkir dibawah pohon mangga ini, apalagi kedatangan mobil pak Nono sama sekali dia tidak melihatnya. Bahkan dia menunggunya sampai jam 02.30.
”Gua semalam makan mi goreng ama ngopi disini”, pak Nono masih mencoba untuk meyakinkan.
”Mi gooooreng???, mi goreng dari Bagdad?”. Murti masih tetap bercanda, karena dia yakin sekali tidak ada penjual nasi goreng yang mangkal di sini.
”Nih kalo ga percaya”, pak Nono mencoba meyakinkan, dia meraba-raba bawah jok mobilnya, mencari piring dan gelas bekas makan dan minumnya semalam. Namun dia tak menemukan apa-apa. Lalu dia mencoba melihatnya, dia kelihatan sangat kaget, wajahnya kelihatan pucat, jantungnya berdetak lebih kencang. Dia tak bisa menyembunyikan raut mukanya dari pak Murti.
”Pak Nono ga apa-apa?” tanya pak Murti khawatir.
Pak Nono ga bisa menjawab, mulutnya bagai terkunci, pandangannya kosong, pikirannya entah kemana.
”Pak Nono?!” Murti mengulanginya lebih keras sambil menggoyang-goyangkan badan pak Nono.
Murti penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi, dia mencoba melihat ke bawah jok mobil pak Nono. Dia hanya melihat selembar daun kamboja dengan beberapa bongkah tanah yang ada cacingnya dan sepotong tempurung kelapa dengan air kecoklatan didalamnya. Bagi Murti hal itu bukan sesuatu yang istimewa, yang ada dalam pikirannya mungkin pak Nono habis mancing semalaman. Sementara pak Nono masih terdiam pandangannya makin kabur dan gelap.
”Bruk!” suara tubuh pak Nono jatuh terhempas ke tanah, dia pingsan.
Murti segera mengangkat tubuh pak Nono memindahkannya ke ruang Kamboja, dia teringat apa yang barusan dikatakan pak Nono, tubuhnya jadi merinding, bulu kuduknya berdiri, dalam hatinya bertanya mungkinkah itu yang dimakan dan diminum pak Nono?.
Perlahan mata pak Nono kembali terbuka, pandangannya masih kosong, banyak pertanyaan yang terlintas di otaknya, benarkah dia berada di halaman kamboja tadi malam, siapa penjual mi goreng itu, lalu apa yang dia makan dan minum tadi malam? Siapa yang telah mengambil piring dan gelas lalu menggantinya dengan daun kamboja dan tempurung kelapa? Entahlah.

---*---

Alergi, TBC atau Bronkitis

WASPADAI DIAGNOSIS TBC YANG TIDAK BENAR PADA PENDERITA ALERGI

 

CASE PREVIEW
Sandiaz, laki-laki 4 tahun setiap malam dan pagi hari bangun tidur sering mengalami batuk dan pilek yang tak kunjung hilang selama 3 bulan, Telah berbagai dokter dikunjungi baik dokter anak, dokter paru, dokter THT, dan berbagai obat antibiotika terbaik dan obat yang termahal pun sudah dikonsumsi hasilnya tetap tidak menunjukkan perubahan. Beragam dioagnosis yang diberikan oleg beberapa dokter mulai alergi, TBC, Bronkitis atau Pnemoni. Bahkan hanya berdasarkan selembar hasil foto rontgen seorang dokter dengan berani memvonis TBC. Akhirnya si anak harus minum obat TBC bahkan sampai 1 tahun tiada henti. Ternyata, batuk si anak tak sembuh juga. Tetapi setelah diadviskan seorang dokter untuk menghindari sementara beberapa makanan penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan tersebut membaik.
Background
  • Benarkah diagnosis TBC anak dan sang bapak dulu? Apakah TBC menurun karena dulu waktu kecil sang bapak juga menderita TBC. TBC tidak menurun, tetapi memang benar yang menurun adalah alergi. Berarti sangat mungkin anak bapak sekaligus mengalami overdiagnosis TBC? Mengapa ? Karena, alergi dan TBC adalah sama-sama penyakit THE GREAT IMMITATOR.
  • Bila anak anda mengalami gangguan kulit, gatal-gatal, sakit kepala, hidung buntu, bersin-bersin, nyeri perut, diare, sulit BAB atau batuk lama, hiperaktif, gangguan tidur, gangguan emosi, keterlambatan bicara, kesulitan makan dan lain sebagainya. Dalam benak anda, pertama kali yang terpikir adalah pasti penyebabnya adalah flek paru, TBC, vetsin, minuman dingin, makanan berminyak, makanan pedas, makanan kotor, masuk angin, panas dalam, karena debu atau udara dingin atau berbagai penyebab lainnya. Mungkin orang tua tidak terpikir bahwa keluhan-keluhan tersebut semua karena reaksi alergi makanan. Karena alergi makanan mungkin termasuk penyakit “The Great Mimic Presentation” karena gejalanya mirip atau sering dikira penyebab lainnya.
  • Diagnosis pasti TB anak sulit oleh karena penemuan Micobacterium TBC (M.TBC) sebagai penyebab TB pada anak tidak mudah. Sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis baik berupa underdiagnosis dan overdiagnosis dalam penegakkan diagnosis TB pada anak. Overdiagnosis atau diagnosis TB yang diberikan terlalu berlebihan padahal anak belum tentu mengalami infeksi TB. Konsekuensi yang harus dihadapi adalah pemberian multidrug (2 atau 3 jenis antibiotika) dalam jangka waktu 6 bulan. Pemberian obat anti TB pada anak yang tidak menderita TB selain mengakibatkan pengeluaran biaya yang tidak diperlukan, juga resiko efek samping pemberian obat tersebut seperti gangguan hati, persarafan telinga, gangguan darah dan sebagainya. Di lingkungan Puskesmas khususnya daerah pedesaan juga membuat berkurangnya persediaan obat untuk penderita TB yang benar-benar memerlukannya.
  • Di kalangan masyarakat bahkan sebagian klinisi terdapat kecenderungan tanda dan gejala TB yang tidak spesifik pada anak sering dipakai dasar untuk memberikan pengobatan TB pada anak. Padahal banyak penyakit lainnya yang mempunyai gejala tersebut. Gagal tumbuh atau berat badan tidak naik, kesulitan makan, demam berulang, sering batuk atau pembesaran kelenjar yang kecil di sekitar leher dan belakang kepala merupakan gejala yang tidak spesifik pada anak. Tetapi tampaknya dalam praktek sehari-hari gangguan ini sering langsung dicurigai sebagai gejala TB. Seharusnya gejala tersebut dapat disebabkan oleh beberapa penyakit lainnya. Gangguan-gangguan tersebut juga sering dialami oleh penderita alergi, asma, gangguan saluran cerna dan gangguan lainnya pada anak.
  • Tanda dan gejala TB yang tidak spesifik sangat mirip dengan penyakit lainnya. Gangguan gagal tumbuh dan gangguan saluran napas non spesifik sering mengalami overdiagnosis tuberkulosis. Penyakit alergi atau asma dan penderita gagal tumbuh yang disertai kesulitan makan paling sering dianggap penyakit TB karena gejalanya sama. Penelitian yang dilakukan penulis didapatkan fakta yang patut disimak. Sebanyak 34(12%) anak mengalami overdiagnosis di anatara 226 anak dengan gangguan napas nonspesifik seperti alergi atau asma yang berobat jalan di Klinik Alergi Anak Rumah Sakit Bunda Jakarta.  Penelitian lain didapatkan hasil yang mengejutkan,  overdiagnosis ditemukan lebih besar lagi, yaitu  42 (22%) anak pada 210 anak dengan gangguan kesulitan makan disertai gagal tumbuh yang berobat jalan di Picky Eaters Clinic Jakarta. Overdiagnosis tersebut sering terjadi karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada atau kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru
  • Angka kejadian alergi di berbagai dunia dilaporkan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. World Health Organization (WHO) memperkirakan di dunia diperkirakan terdapat 50 juta manusia menderita asma. Tragisnya lebih dari 180.000 orang meninggal setiap tahunnya karena astma. BBC tahun 1999 melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Beberapa ahli alergi berpendapat bahwa 30%-50% secara genetik manusia mempunyai predisposisi untuk berkembang menjadi alergi. Dengan kata lain mempunyai antibody Imunoglobulin E terhadap lingkungan penyebab alergi. Sejauh ini banyak orang tidak mengetahui bahwa keluhan yang dia alami itu adalah gejala alergi. Di Amerika penderita alergi makanan sekitar 2 – 2,5% pada dewasa, pada anak sekitar 6 – 8%. Setiap tahunnya diperkirakan 100 hingga 175 orang meninggal karena alergi makanan. Penyebab kematian tersebut biasanya karena syok anafilaksis (reaksi alergi berat), tersering karena kacang tanah. Lebih 160 makanan dikaitkan dengan alergi makanan.
  • Penyakit alergi juga ternyata telah menghabiskan biaya sangat besar dan fantastis. Dalam setahun penderita rhinitis alergi seluruh dunia telah menghabiskan lebih dari 20 milyar dolar Amerika untuk pembelian obat-obatan, konsultasi dan mengganggu jam kerja. Hanya untuk biaya pembelian obat anti alergi saja diperkirakan di seluruh dunia menghabiskan lebih dari 8 milyar dolar Amerika setiap tahun. Demikian juga di Indonesia, penderita alergi sering menghabiskan biaya yang sangat banyak. Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan orang tua untuk biaya berobat anaknya yang menderita alergi. Bila minimal setiap bulan anak harus konsultasi ke dokter, membeli obat, dan banyak pemeriksaan laboratorium yang sangat mahal.
  • Penderita alergi yang paling menganggu bukan gejala alerginya tetapi karena sering mengalami infeksi berulang dan sering kali mendapatkan ”overtreatment” antibiotika. Penderita alergi sering mengalami penurunan daya tahan tubuh khususnya penderita alergi yang disertai gangguan saluran cerna seperti sering mual, muntah, nyeri perut, sulit BAB dan gangguan saluran cerna lainnya. Karena, daya tahan tubuh sebagian besar timbul di saluran cerna.  
  • Bronkitis adalah suatu peradangan pada cabang tenggorok (bronchus) (saluran udara ke paru-paru). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius. Bronkitis infeksiosa disebabkan oleh virus, bakteri dan organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia) Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru dan saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang itu biasanya disertai Sinusitis kronis, Bronkiektasis, Alergi dan Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak.
PERMASALAHAN DIAGNOSIS TB
Gejala khas TB biasanya muncul tergantung dari bagian tubuh mana yang terserang, misalnya: TB kulit atau skrofuloderma, TB tulang dan sendi: tulang punggung (spondilitis): gibbus tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul, tulang lutut pincang atau bengkak, tulang kaki dan tangan, TB otak dan saraf : meningitis: dengan gejala iritabel, kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun. Gejala mata berupa konjungtifitis phlyctenularis, tuberkel koroid , kelainan ini hanya terlihat dengan alat funduskopi.
Pada pertemuan para ahli pulmonologi anak di Jakarta 26 Agustus 2000 telah dibuat suatu kesepakatan bersama yang berupa Konsensus Nasional TB anak. Diagnosis paling tepat adalah ditemukannya basil TB dari bahan yang diambil dari pasien misalnya sputum, bilasan lambung, biopsi dll. Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat, sehingga sebagian besar diagnosis TB anak didasarkan gambaran klinis, kontak, gambaran radiologis, dan uji tuberculin.
Pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung pada anak biasanya dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit didapat. Pemeriksaan BTA secara biakan (kultur) memerlukan waktu yang lama. Cara baru untuk mendeteksi kuman TB dengan PCR (Polymery Chain Reaction) atau Bactec masih belum banyak dipakai dalam klinis praktis. Demikian juga pemeriksaan darah serologis seperti ELISA, PAP, Mycodot dan lain-lain, masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk pemakaian dalam klinis praktis. Beberapa pemeriksaan tersebut spesifitas dan sensitifitasnya tidak lebih baik dari uji tuberkulin atau tes mantoux.
KESALAHAN DIAGNOSIS
Overdiagnosis sering terjadi karena karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada atau kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru. Pada kasus di atas sebagian besar overdiagnosis TB ditegakkan hanya karena hasil foto rontgen. Tanpa pengamatan adanya kontak dan uji tuberkulin (test mantouxt) sudah terlalu cepat diberikan pengobatan TB. Sering terjadi hasil rontgen adalah infiltrat (flek) di paru sudah dianggap sebagai TB. Padahal gambaran ini bukan gambaran TB dan ternyata bisa didapatkan pada penyakit alergi, asma dan penyakit coeliac (gangguan saluran cerna dan berat badan kurus). Sedangkan gambaran röntgen TB paru pada anak tidak khas. Gambaran TB yang ditemukan adalah pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal, milier,atelektasis, kolaps, konsolidasi, infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal, konsolidasi (lobus), cairan paru. kalsifikasi, bronkiektasis, kavitas dan destroyed lung (paru rusak). Sering kali terjadi interpretasi dokter radiologi hanya karena ditemukan infiltrat (flek) tanpa pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal sudah dicurigai atau dianggap TB. Sedangkan dokter yang merawat penderita langsung memberikan pengobatan TB tanpa konfirmasi data lainnya.
Menentukan sumber penularan atau kontak TB adalah adanya kontak erat dan lama dengan penderita TB yang dipastikan dengan pemeriksaan dahak yang positif. Kesalahan yang sering terjadi bahwa kontak TB itu adalah saudara yang hanya pernah bertemu sesekali. Kesalahan lainnya kontak TB sering dianggap bahwa orang yang sering batuk atau kurus padahal belum tentu bila belum terbukti pemeriksaan dahak atau sputum positif. Anak yang mengalami gagal tumbuh dengan kesulitan makan ternyata sekitar 75% salah satu orang tuanya juga mengalami gangguan kenaikkan berat badan. Penderita alergi atau asma juga sebagian besar salah satu orang tuanya juga mengalami batuk lama yang terlalu cepat dianggap sebagai kontak TB.
Di dalam masyarakat  batuk lama atau Batuk Kronis Berulang (BKB) tampaknya lebih sering dikawatirkan sebagai TB. Padahal batuk adalah bukan merupakan keluhan utama penyakit TB pada anak. BKB adalah batuk yang berlangsung lebih dari 2 minggu atau berulang 3 kali atau lebih dalam 3 bulan. Diagnosis banding pertama pada BKB adalah asma atau alergi. Menurut pedoman Nasional Tuberkulosis Anak bila ditemui keluhan BKB harus disingkirkan dulu diagnosis banding lain seperti alergi atau asma sebelum diagnosis TBC dicari.
Kesalahan membaca tes mantouxt sering terjadi dalam overdiagnosis TB. Hasil tes Mantoux yang besar langsung dicurigai sebagai TB. Padahal tes Mantoux dikatakan positif bila indurasi harus lebih 10 mm bila bekas luka imunisasi BCG negatif (imunisasi tidak jadi). Bila bekas luka imunisasi BCG ada (imunisasi BCG jadi)  harus lebih 15 mm. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah penilaian tes mantoux adalah lebar peninggian kemerahan kulit bukan kemerahan pada kulit.
TB adalah penyakit yang harus diwaspadai tetapi jangan terlalu kawatir berlebihan. Dalam menegakkan diagnosis harus dilakukan secara cermat dan lengkap melalui anamnesa kontak TB, tanda dan gejala TB, pemeriksaan foto polos paru dan uji tuberkulin. Sebaiknya tidak terlalu cepat memvonis diagnosis TB bila data yang didapat belum optimal. Bila meragukan sebaiknya dilakukan penanganan multidisiplin ilmu kesehatan anak seperti dokter pulmonologi anak, gastroenterologi anak, endokrinologi anak atau alergi anak. Karena bila sudah didiagnosis TB maka konsekuensi penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu lama dan resiko efek samping yang ditimbulkan.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA BAYI :
  • KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
  • SALURAN CERNA : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
  • SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
  • MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
  • KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
  • PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
  • GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
  • PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
  • PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.
MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA ANAK
  • SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.
  • KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).
  • SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.
  • GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.
  • PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.
  • OTOT DAN TULANG : nyeri kaki, kadang nyeri dada terutama saat malam hari
  • SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)
  • MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.
  • HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.
  • Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.
  • FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong
GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA ANAK (ALERGI DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN OTAK/PERILAKU ATAU “BRAIN ALLERGY” – CEREBRAL ALLERGY
  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
  • GANGGUAN TIDUR MALAM : sulit tidur bolak-balik ujung ke ujung, tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak, sering terbangun duduk saat tidur,,mimpi buruk, “beradu gigi”
  • AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  • GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  • EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme
  • GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
  • GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  • GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  • IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain
  • Memperberat gejala AUTIS dan ADHD. Tetapi Alergi bukan penyebab Autism atau ADHD
KOMPLIKASI
  • KESULITAN MAKAN DAN BERAT BADAN SULIT NAIK terutama setelah usia 4 – 6 bulan
  • DAYA TAHAN TUBUH MENURUN : MUDAH SAKIT PANAS, BATUK, PILEK (INFEKSI BERULANG) ; 1-2 kali setiap bulan). SEBAIKNYA TIDAK TERLALU MUDAH MINUM ANTIBIOTIKA. PENYEBAB TERSERING INFEKSI BERULANG ADALAH VIRUS YANG SEBENARNYA TIDAK PERLU ANTIBIOTIKA.
  • Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu
  • Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING. Kulit di sekitar kelamin sering kemerah
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS
  • INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN
SERING DIANGGAP BIASA
  • Tanda dan gejala yang dikaitkan dengan alergi pada bayi dan anak tersebut, seringkali memang dialami oleh banyak anak (sekitar 30% lebih). Karena banyaknya kasus tersebut maka gejala tersebut sering dianggap biasa, baik oleh kalangan masyarakat dan bahkan oleh sebagian kalangan klinisi atau dokter. Bila orangtua hanya mempunyai satu anak mungkin tidak menyadari, tetapi bila mempunyai anak 2 atau lebih maka akan dapat membedakan sebenarnya tanda dan gejala yang dianggap biasa tersebut sebenarnya tidak terjadi pada sebagian anak lainnya. Hanya saja ketika hal tersebut dianggap biasa karena selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Demikian pula terjadi kontroversi di kalangan medis, semua gejala tersebut saat dikonsultasikan ke dokter sering dianggap biasa, Mungkin secara tehnis hal ini sulit dijelaskan ke pasien karena selama ini gangguan-gangguan tersebut secara medis penyebabnya belum terungkap jelas. Gejala tersebut akan berkurang seiring dengan usia. Bila dikaitkan dengan manifestasi alergi, hal ini memang berkaitan dengan bertambahnya usia imaturitas atau ketidakmatangan saluran cerna akan semakin membaik sehingga gangguan-gangguan tersebut akan semakin berkurang.
  • Tetapi ternyata sebagian besar yang diaggap biasa tersebut mempunyai aspek yang sangat luas. Bila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan banyak komplikasi seperti anak sering sakit, gangguan perilaku dan gangguan lain yang cukup mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
  • Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak gangguan dapat disebabkan karena alergi makanan. Penulis juga banyak mengadakan penelitian dan pengamatan terhadap tanda dan gejala tersebut. Ternyata setelah dilakukan eliminasi makanan tertentu maka gejala tersebut dapat hilang atau berkurang. Atau, bila gejala tersebut timbul selalu terjadi menifestasi alergi lainnya. Misalnya, bila terjadi kolik seringkali disertai gangguan kulit, hidung buntu, napas grok-grok dan gangguan saluran cerna lainnya. Bila dilakukan anamnesa dengan cermat terjadi pola perubahan makanan baik diet ibu saat pemberian ASI atau makanan yang dikonsumsi langsung oleh bayi.
  • Demikian juga dengan gangguan bentol merah seperti digigit nyamuk atau serangga, biasanya disertai gangguan tidur malam, gangguan saluarn cerna ringan, hidung buntu malam, perilaku emosi dan agresif meningkat dan sering ditemukan pola diet makanan alergi yang dikonsumsi.
  • Sehingga orangtua harus bijak dalam menyikapinya. Memang tampaknya alergi makanan tidak berbahaya dan tidak terlalu mengkawatirkan. Tetapi bila dicermati lebih jauh jangka panjang yang bisa terjadi maka hal yang dianggap biasa tersebut SANGAT MENGGANGGU dan harus lebih diwaspadai.
PERSEPSI BERBEDA
  • Gejala dan tanda alergi pada anak yang sering terjadi sering disalah persepsikan penyebabnya oleh masyarakat. Pendapat tersebut turun temurun terjadi didapatkan dari orang tua atau kakek nenek. Dalam jangka panjang gangguan tersebut ternyata dapat menjadi alat prediksi ke depan. Persepsi berbeda dalam masyarakat dalam menyikapi tanda dan gejala alergi:
  • Dermatitis (merah di pipi) sering dianggap karena terkena (“terciprat”) air susu ibu. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu seringkali timbul jerawat di wajah atau di punggung atau dada atas..
  • Perioral dermatitis (bintik merah di sekitar mulut) sering dianggap sehabis makan lupa membersihkan sisa makanan di sekitar mulut. Padahal sisa makanan tersebut tiap hari pasti ada tetapi keluhan ini hilang timbul. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu timbul semacam bintik kecil atau jerawat disekitar mulut.
  • Hipersekresi bronkus (napas bunyi grok-grok) sering dianggap karena dokter atau bidan kurang bersih menyedot atau membersihkan cairan ketuban di mulut bayi saat lahir.
  • Diapers Dermatitis (merah di daerah popok) sering dianggap karena pemakaian popok (diapers) padahal setiap hari memakai diapers tetapi hanya saat tertentu tiombul gejala. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering batuk kecil (berdehem) karena dahak berlebihan di tenggorokan.
  • Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.
  • Sering nyeri perut sering dianggap pura-pura atau alasan menolak makanan hal ini terjadi karena keluhan tersebut sangat ringan dan timbul hanya sebentar. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering perut rasa tidak enak atau gejala maag
  • Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.
  • Bintil merah di kulit yang berubah menjadi kehitaman atau dermatitis di kulit sering dianggap karena digigit nyamuk atau darah manis, padahal semua anggota keluarga di dalam rumah yang sama tidak mengalaminya. Atau, sering dianggap karena debu atau air kran yang kurang bersih atau karena udara panas atau keringat.
  • Tanda lebam kebiruan di tulang kering kaki atau kadang di daerah salah satu pipi sering dianggap karena terbentur atau terjatuh saat berlari atau naik sepeda. Memang kebetulan bahwa anak alergi biasanya anaknya sangat aktif dan tidak bisa diam. Hal ini biasanya juga dialami oleh salah satu orang tua, tetapi pada orangtua biasanya lokasinya di paha atau lengan atas sering diistilahkan dicubit setan.
  • Mata atau telinga gatal, sering digosok-gosok sering dianggap karena mengantuk
  • Tanda putih (seperti panu) di pipi, dada atau pungggung sering dianggap karena berenang, padahal banyak anak yang tidak pernah berenang juga mengalaminya.
  • Sering sariawan atau luka di mulut sering dianggap karena panas dalam atau kurang vitamin C padahal anak setiap hari makan buah. Sariawan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.
  • Sulit Buang air besar atau tidak buang air besar tiap hari sering dianggap karena karena kurang buah atau sayur padahal anak setiap hari makan buah dan sayur. Gangguan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.
PENCETUS ALERGI
  • Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengaruhi oleh penyebab alergi, tapi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Beberapa hal yang menyulut atau mencetuskan timbulnya alergi disebut faktor pencetus. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari,olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan.
  • Faktor hormonal juga memicu terjadinya alergi pada orang dewasa. Faktor hormonal itu berpengaruh sebagai pemicu alergi terjadi saat kehamilan dan menstruasi. Sehingga banyak ibu hamil mengeluh batuk lama, gatal-gatal dan asma terjadi terus menerus. Demikian juga saat mentruasi seringkali seorang wanita mengeluh sakit kepala, nyeri perut dan sebagainya.
  • Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. Bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi disertai dengan adanya pencetus maka keluhan atau gejala alergi yang timbul jadi lebih berat. Tetapi bila tidak mengkonsumsi makanan penyebab alergi meskipun terdapat pencetus, keluhan alergi tidak akan muncul. Pencetus alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi makanan dikendalikan.
  • Hal ini yang dapat menjelaskan kenapa suatu ketika meskipun dingin, kehujanan, kelelahan atau aktifitas berlebihan seorang penderita asma tidak kambuh. Karena saat itu penderita tersebut sementara terhindar dari penyebab alergi seperti makanan, debu dan sebagainya. Namun bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi bila terkena dingin atau terkena pencetus lainnya keluhan alergi yang timbul lebih berat. Jadi pendapat tentang adanya alergi dingin mungkin keliru.
MEMASTIKAN DAN MENCARI PENYEBAB ALERGI
  • UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI MAKANAN BUKAN DENGAN TES ALERGI (TES KULIT ATAU TES DARAH) TETAPI DENGAN menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC).
  • DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Rumah Sakit Bunda Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
  • PEMERIKSAAN ALERGI YANG DIANJURKAN DAN TELAH TERBUKTI SECARA KLINIS ADALAH TES KULIT DAN PEMERIKSAAN IgE SPESIFIK, TETAPI PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA BAKAT ALERGI ATAU ATOPI, BELUM MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI.
  • Bahkan dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test), Bioresonansi, Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.
  • PEMERIKSAAN TES KULIT : SENSITIFITAS TINGGI TETAPI SPESIFITAS RENDAH. HANYA DAPAT MENDETEKSI ALERGI TIPE CEPAT, TETAPI TIDAK BISA MENDETEKSI ALERGI TIPE LAMBAT.  SEDANGKAN PEMERIKSAAN ALTERNATIF (BELUM TERBUKTI SECARA ILMIAH) SEPERTI TEST VEGA, BIORESONANSI DLL SENSITIFITAS DAN SPESIFITASNYA RENDAH SEHINGGA BELUM MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI MAKANAN
  • SEHINGGA SEBAIKNYA JANGAN MENGHINDARI DAN MEMBOLEHKAN MAKANAN HANYA BERDASARKAN TES KULIT DAN TES DARAH
END POINT
  • BILA ANDA ATAU ANAK ANDA MENGALAMI GEJALA ALERGI DAN  DI VONIS TBC ATAU FLEK PARU TETAPI TERDAPAT GEJALA SEPERTI DI ATAS SEBAIKNYA ANDA HARUS SEGERA LAKUKAN SECOND OPINION KE DOKTER  LAINNYA
  • ALERGI MAKANAN MASIH MISTERIUS DAN BELUM BANYAK TERUNGKAP SEHINGGA DISEKITAR KITA BANYAK TIMBUL KONTROVERSI BAIK OLEH MASYARAKAT ATAU DIANTARA KLINISI (DOKTER) SEHINGGA KADANG MEMBINGUNGKAN ORANGTUA. HINGGA KINI BANYAK GANGGUAN TERSEBUT DI ATAS MASIH BELUM TERUNGKAP JELAS APA PENYEBABNYA. SEHINGGA BANYAK TIMBUL PENDAPAT BERBEDA UNTUK MENDUGA PENYEBABNYA. SERINGKALI JUGA DIANGGAP MANIFESTASI NORMAL. TERNYATA BEBERAPA GANGGUAN TERSEBUT HILANG TIMBUL SECARA BERSAMAAN BERKAITAN DENGAN KONSUMSI MAKANAN TERTENTU.
  • SERING DIANGGAP BIASA KARENA SEBAGIAN BESAR BAYI BANYAK YANG MENGALAMI PADAHAL BILA TIDAK DIATASI SEJAK DINI DALAM JANGKA PANJANG SAAT USIA LEBIH BESAR GANGGUAN INI BERESIKO MENIMBULKAN BANYAK GANGGUAN.
REFERENSI :
1. Landstra AM, Postma DS, Boezen HM, van Aalderen WM. Role of serum cortisol levels in children with asthma. Am J Respir Crit Care Med 2002 Mar 1;165(5):708-12 Related Articles, Books, LinkOut2. Kretszh, Konitzky. Differential Behavior Effects of Gonadal Steroids in Women And In Those Without Premenstrual3. Lynch JS. Hormonal influences on rhinitis in women. Program and abstracts of 4th Annual Conference of the National Association of Nurse Practitioners in Women’s Health. October 10-13, 2001; Orlando, Florida. Concurrent Session K New England Journal of Medicine 1998:1246142-156.4. Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-145. Stubner UP, Gruber D, Berger UE, Toth J, Marks B, Huber J, Horak F. The influence of female sex hormones on nasal reactivity in seasonal allergic rhinitis. Allergy 1999 Aug;54(8):865-716. Renzoni E, Beltrami V, Sestini P, Pompella A, Menchetti G, Zappella M. Brief report: allergological evaluation of children with autism.: J Autism Dev Disord 1995 Jun;25(3):327-337. Menage P, Thibault G, Martineau J, Herault J, Muh JP, Barthelemy C, Lelord G, Bardos P. An IgE mechanism in autistic hypersensitivity? .Biol Psychiatry 1992 Jan 15;31(2):210-28. Strel’bitskaia RF, Bakulin MP, Kruglov BV. Bioelectric activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975 Oct;(10):40-3.9. O’Banion D, Armstrong B, Cummings RA, Stange J. Disruptive behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978 Sep;8(3):325-3710. Boris, M & Mandel, E. Food additives are common causes of the Attention Deficit Hyperactivity Disorder in Children. Annals of Allergy 1994; 75(5); 462-811. Carter, C M et al. Effects of a few foods diet in attention deficit disorder. Archives of Disease in Childhood (69) 1993; 564-812. Egger, J et al. Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet (1) 1985: 540-513. Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A (Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177.14. Rowe, K S & Rowe, K L. Synthetic food colouring and behaviour: a dose-response effect in a double-blind, placebo-controled, repeated-measures study. Journal of Paediatrics (125);1994;691-698.15. Ward, N I. Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity. J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342.16. Trotsky MB. Neurogenic vascular headaches, food and chemical triggers. Ear Nose Throat J. 1994;73(4):228-230, 225-236.17. Overview Allergy Hormone. htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.18. Allergy induced Behaviour Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour.19. Brain allergic in Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.20. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K. Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The Psychonutrient and Magnetic Connections.21. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and Children Coping. London.200322. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976 Jan;36(1):49-64.23. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child24. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.25. Costa M, Brookes SJ. The enteric nervous system. Am J Gastroenterol 1994;89:S29-137.26. Goyal RK, Hirano I. The enteric nervous system. N Engl J Med 1996;334:1106-1115.27. Vaughan TR. The role of food in the pathogenesis of migraine headache. Clin Rev Allergy 1994;12:167-180.

Sumber :  http://allergycliniconline.com/2012/02/14/mana-yang-benar-alergi-tbc-atau-bronkitis/
Gambar : http://maxylosoh.files.wordpress.com/2012/05/tbc-550-x-1901.jpg?w=585

Jumat, 21 Maret 2014

AKU INGIN BERTEMU PRESIDEN

AKU INGIN BERTEMU PRESIDEN

24 Januari 2013 pukul 4:33 
Oleh : Djoko Santoso 


“Pak Iyan!” seorang petugas yang berbaju putih lengkap dengan membawa secarik kertas pendaftaran memanggil dari balik pintu kamar pengambilan darah sebuah kantor cabang UTDC PMI.
Seorang bapak-bapak bergegas beranjak dari tempat duduknya dan meletakkan koran harian ibukota yang sedari tadi asyik dibacanya.
“Iya Sus” sahut pak Iyan.
Pak Iyan adalah salah satu donor darah sukarela PMI yang selalu rajin menyumbangkan darahnya untuk PMI, dalam satu tahun dia bisa lima kali mendonorkan darahnya. Sudah kurang lebih 10 tahun dia menjadi donor darah. Donor darah kali ini adalah yang ke 49, satu kali lagi dia akan bertemu dengan bapak presiden. Sudah lama PMI memberikan penghargaan ini bagi pendonor darah sukarela mulai dari 5, 10, 25, dan puncaknya ke 50 kali akan bertemu dengan presiden langsung. Dengan model penghargaan seperti ini di harapkan akan merangsang orang-orang untuk sudi menjadi donor darah sukarela. Maklum jaman sekarang ini sangat susah mencari donor darah sukarela.
“Silakan masuk Pak Iyan” sapa petugas tersebut dengan sangat ramah, dia sudah hafal betul dengan tabiat pak Iyan, dia paling tidak suka kalau diperlakukan kurang ramah. Kalau sudah marah pak Iyan tak segan-segan memaki-maki petugas. Maklum dia adalah salah seorang yang disegani di desanya.
Pak Iyan langsung mengambil tempat tidur pengambilan darah dan langsung berbaring. Seorang petugas lain yang bertugas mengambil darah datang menghampiri.
“Di tensi dulu ya pak” kata petugas sambil langsung memasang manset di lengan pak Iyan. Jangan salah kalo petugas amprah darah memasang manset selalu terbalik, itu untuk mempermudah pengambilan darah. Pak Iyan mengangguk tanda setuju.
“Bagus pak, seratus duapuluh per delapanpuluh” kata petugas sambil mempersiapkan peralatan pengambilan darah.
“Saya tusuk ya pak ?” dengan sangat hati-hati dan teliti petugas itu menusuk pembuluh darah yang ada di lengan pak Iyan, seketika itu juga mengucurlah cairan berwarna merah kehitaman melalui selang menuju kantong darah. Setelah memasang perekat di jarum penusuk, kantong darah digoyang-goyang oleh petugas.
“Petugas baru ya mbak? Baru kali ini saya ketemu mbak”, sapa pak Iyan. “Namanya siapa?” tanya pak Iyan melanjutkan.
“Nama saya Lani pak, saya baru satu bulan kerja di sini. Bapak kayaknya udah hafal betul dengan PMI, udah sering donor pak?”
”Nggak juga sih, baru empat puluh sembilan kali” kata pak Iyan sambil menyembunyikan rasa bangganya.
”Wauw!” Lani tersentak kaget. ”Hebat sekali bapak, jarang lho pak ada orang yang mau mendonorkan darah sebanyak ini. Boro-boro mau donor sukarela, dibayar aja kadang pada ga mau. Kalaupun ada kadang-kadang mereka pada minta imbalannya gede”.
”Itulah manusia neng. Neng siapa tadi?”
”Lani pak”.
”Iya neng Lani. Kadang mereka hanya memandang materi aja, mereka ga pernah berpikir bagaimana susahnya mencari darah pada saat membutuhkan. Uang udah ga ada, darah ga ada, mereka harus mencari kemana coba? Kalau bukan kita-kita, siapa lagi” Kata pak Iyan prihatin. ”Kalau neng Lani sendiri sering donor darah ga?”.
”Penginnya sih saya kaya bapak, saya pernah dua kali donor tapi yang ke dua darah saya ditolak. Ternyata HBSAg saya positif, jadi sampai sekarang saya belum bisa donor darah lagi” keluh Lani.
Tiba-tiba di lobi depan ada keributan.
”Bagaimana sih PMI ini, lama amat ngasih darahnya, bapak saya butuh secepatnya, kalau ada apa-apa dengan bapak saya PMI harus bertanggung jawab!” seorang laki-laki setengah tua membentak petugas informasi, sambil memukul-mukul meja. Semua orang yang berada di ruang tunggu mengarahkan pandangan kepadanya. Ada yang saling berbisik. Seorang ibu muda mendatangi sambil mengelus pundak bapak tersebut
”Sabar dong pak, kan perlu proses”
”Mau sabar gimana, sudah satu jam lebih saya menunggu!”
”Maaf pak, bapak bisa duduk sebentar” pinta seorang petugas informasi dengan sangat ramah sambil menyodorkan sebuah kursi. ”Saya Ike, petugas informasi di sini, Saya paham perasaan bapak dan bisa mengerti. Tapi pak, darah yang akan diberikan kepada orang tua bapak perlu proses yang memakan waktu kurang lebih dua jam dan bisa lebih jika memerlukan proses tertentu”
”Bapak saya itu sudah sakit keras, dan memerlukan darah saat ini juga, proses apaan sih. Lama amat, keburu mati bapak saya!” potongnya dengan nada masih tinggi.
”Bapak...” dengan sangat lembut Ike menyapa, memang dia petugas yang paling sabar, setiap ada masalah dengan klien Ike adalah negosiator nomor satu. Sudah cantik parasnya lembut tutur katanya, sopan tindak tanduknya. Pantas aja dr Ardi selalu memintanya untuk selalu menemani bila ada donor keliling. Dr Ardi adalah salah satu dokter sukarela yang ada di PMI.
”Prosesnya emang agak lama pak, semua ini dilakukan untuk kepentingan pasien juga. Kalau proses ini tidak dijalankan, maka akan sangat berbahaya sekali bagi pasien, bukannya manfaat yang didapat tapi sakitnya bisa tambah parah, bahkan bisa menimbulkan kematian. Dalam proses ini dilakukan banyak pemeriksaan diantaranya cross ceck guna mencocokkan apakah darah ini bisa diterima oleh pasien? Kalau misalnya tidak dilakukan dan ternyata darah ini tidak cocok bisa menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan sampai bisa menimbulkan kematian. Itu salah satunya. Pemeriksaan HIV, Sipilis, Hepatitis juga dilakukan disini, jadi nantinya diharapkan darah yang diberikan ke pasien adalah benar-benar darah yang aman” Ike menerangkan dengan sangat gamblang.
”Terimakasih”, kata bapak tadi sambil ngeloyor malu.
Kantong darah yang berada di tangan Lani sudah penuh.
”Sudah pak” sambil membereskan kantong darah yang sudah penuh tadi, Lani menuangkan sedikit darah ke tabung reaksi. Kemudian menempelkan sehelai plester ke lengan pak Iyan.
”Terimakasih”, kata pak Iyan seraya menuju ruang makan. Memang sudah sejak lama setiap pendonor darah akan mendapatkan snack dan segelas susu setelah pengambilan darah. Pak Iyan segera menyantap hidangan yang ada di depannya.
“Pak Iyan, ini kartunya” kata seoang petugas sambil menyodorkan kartu donor dara sukarela milik pak Iyan, “Satu kali lagi bisa ketemu langsung dengan pak presiden pak” lanjutnya.
Pak Iyan hanya bisa tersenyum, dia berusaha menyembunyikan kebanggaannya.
“Iya neng, mudah-mudahan masih diberi kesehatan dan kemudahan” jawab pak Iyan.
Hidangan di depan pak Iyan sudah habis, pak Iyanpun segera meninggalkan PMI.
______*****_____
Dua bulan kemudian
“Pos, pos. Permisi, ada surat pak, bu!” seorang tukang pos memanggil-manggil.
Andi langsung membuka pintu dan menyambutnya. “Ada surat pak? Untuk siapa?”
“Untuk pak Iyan, ini suratnya dik, tolong tanda tangan disini ya” Kata pak Pos sambil menyodorkan surat dan sehelai kertas untuk ditandatangani.
Tanpa pikir panjang Andi langsung tanda tangan. “Ini pak, makasih” kata Andi sambil menyodorkan kembali kertas yang sudah ditandatangani.
“Bapak! Bapak! Ada surat dari PMI!” teriak Andi memanggil-manggil bapaknya.
Andi adalah anak satu-satunya pak Iyan, dia sudah kelas dua di salah satu SMU favorit di kotanya. Tanpa menunggu kedatangan bapaknya Andi langsung saja membuka sebuah surat yang dari tadi dipegangnya dan langsung membacanya. Setengah tak percaya Andi memberitahu bapaknya, “Bapak, Undangan dari PMI, bapak diundang ke Istana negara!” teriak Andi keras-keras.
“Ngapain sih teriak-teriak?”, pak Iyan sudah tahu, itu adalah undangan yang selama ini dia tunggu-tunggu “Nanti tetangga pada tahu semua, ga enak sama tetangga” kata pak Iyan melanjutkan.
“Mama, harus dikasih tahu nih pak” dengan penuh semangat Andi memangil mamanya, “Mama, Mama!” teriak Andi, “Mamaaaa..!”
Begitulah Andi kalau memanggil mamanya, sampai-sampai orang se-RT pada denger semua.
“Apaan sih Andi, mama belum budeg tahu!?” sahut mamanya agak sewot.
“Nih Ma, baca sendiri” kata Andi sambil menyodorkan surat.
“Mama males baca, Andi aja yang bacain”
“Ayolah Ma, pasti Mama kaget baca isinya” pinta Andi sungguh-sungguh.
“Iya, mana suratnya” sahut mamanya sambil merebut surat dari tangan Andi.
Bu Iyan membaca surat itu dengan perlahan-lahan, dan kemudian dia membelalakkan matanya dan mengangkat bahunya tanda terkagum-kagum, wajah keceriaan tampak dari raut mukanya, dia tidak tahu kalau sedari tadi suaminya memperhatikan dari belakangnya. Bu Iyan melihat sekelilingnya mencari-cari sesuatu, dan matanya tertuju pada sosok yang sudah duapuluh tahun mendampingi hidupnya, dia langsung menghampiri dan memberikan pelukan hangat untuk pak Iyan, setetes air mata bahagia tampak mengalir dari sudut mata keduanya.
“Bapak hebat, ibu ga nyangka kalau bapak selama ini jadi donor darah sukarela di PMI” puji bu Iyan. Memang selama ini pak Iyan tidak pernah menceritakan hal ini kepada keluarganya.



---*----


“Assalammu’alaikum...” Pak Iyan memberi salam.
“Wa’alaikum salaam, silakan duduk pak Iyan”, sahut dr. Ardi seraya mengulurkan tangan. Keduanyapun terlihat begitu hangat berjabat tangan yang dilanjutkan dengan pelukan penuh kebanggaan “Bapak hebat euy, susah mencari orang seperti bapak” puji dr. Ardi.
Pak Iyan hanya bisa tersenyum “Dokter bisa aja, semua karena dukungan dari dokter “.
“Silakan duduk pak” pinta dr. Ardi.
“Begini Pak Iyan” lanjut dr. Ardi seraya menggeser kursinya mendekat ke meja, “Semuaunya sudah diatur, bapak tinggal datang, ikuti jadwalnya, dan selanjutnya dan selanjutnya” dr. Ardi tidak bisa menerangkan secara detail, “Bapak tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, semuanya sudah ada yang menanggung.”
“Saya nanti harus pakai baju apa dok?”
“Bawa aja baju batik, baju putih, kalau ada stelan jas dan dasi. Kalau tidak ada juga ga apa-apa. Intinya pakai baju rapi dan sopan”
“Dok, acaranya nanti kan sampai malam, trus dilanjutkan lagi pagi harinya, pulang perginya gimana dok?”
“Pak Iyan, ga perlu mikirin yang kaya gitu, pak Iyan ga perlu pulang, sudah disediakan penginapan untuk pak Iyan” jelas dr. Ardi.
“Boleh bawa isteri dok?”
“Jangankan Isteri pak, anak juga boleh, kalau perlu isteri simpanan juga boleh dibawa”, seloroh dr. Ardi seraya tertawa.
“Ha, ha, ha...”, pak Iyanpun ikut tertawa lepas.
“Kriing,.....kriing,” suara telepon di ruang dr. Ardi bedering.
“Assalammu’alaikum” sapa dr. Ardi
“Wa’alaikum salam. Maaf dok mengganggu. Ada pasien pingsan di ruang dua dok,” sahut Lani di telepon.
“Lu, apain aja, pasien bisa sampai pingsan?” tanya dr. Ardi bercanda.
“Cepetan dok, serius nich”, pinta Lani seraya menutup teleponnya.
“Maaf Pak Iyan, saya harus ke ruang dua, ada pasien pingsan, sampai besuk pagi pak Iyan” dr. Ardi berdiri dan menjabat tangan pak Iyan, lalu menuju kamar dua.
“Silakan dok, terimakasih” sahut pak Iyan seraya keluar dari ruang dr.ardi.
Raut muka pak Iyan masih tampak kebingungan, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, dia belum bisa membayangkan apa yang akan dihadapinya besuk pagi.
“Pak Iyan, kok bengong?” sapa seorang petugas PMI.
“Eh, iya. Eneng ngagetin saya aja” Pak Iyan terperanjat kaget.
“Selamat ya pak”
“Terimakasih Neng” sahut pak Iyan.
Pak Iyanpun segera meninggalkan gedung PMI, gedung yang selama kurang lebih sepuluh tahun dia kunjungi, gedung yang akan mengantarkan dia bertemu dengan presiden.
-----*-----




”Waduh, enak sekali, makan apaan?” sapa dr Agus dimuka pintu kamar perawat kenanga.
”Eh, malam dok. Cepet amat datangnya? Belum juga sepuluh menit” suter Diana balik menyapa, tanpa rasa cangung sedikitpun. Beginilah hubungan dokter jaga dan perawat seperti teman aja. Bukan sebagai atasan dan bawahan namun sebagai mitra kerja. Dokter Agus adalah salah satu dokter paling rajin di rumah sakit ini, bila dipanggil selalu cepat datang, banyak perawat yang suka jika dia yang jaga.
”Dikamar berapa Pasiennya?”
”Kamar enam Dok, nyonya Maria. Masih sesak, padahal udah nebul, dexa, amino drip” terang suster Diana seraya merapikan makanannya yang baru dimakannya dua suap.
”Oksigennya berapa?”
”Dua dok”
”Ke pasiennya yuk” ajak dr. Agus seraya mengabil stetoskop. Suster Diana segera mengikutinya.
”Selamat malam bu Maria. Saya dokter Agus, dokter jaga disini, ada yang bisa saya bantu?” Begitulah dokter agus bila menyapa pasiennya, sopan, halus tapi tegas.
”Malam dok” bu Maria balik menyapa dengan susah payah menandakan dia benar-benar sesak. ”Masih sesak aja dok”
”Ibu kelurganya?” pertanyaan dr. Agus tertuju pada ibu setengah baya yang berdiri disamping ranjang bu Maria.
”Iya dok” sahutnya sambil mengangguk.
”Saya periksa bu Maria sebentar, tolong ibu geser sedikit”
Dokter Agus segera memeriksa, sambil mengangguk-anggukkan kepala.
”Sus, Extra nebuliser ya, satu kali, kalu masih sesak boleh dua kali. Kalau masih sesak juga, periksa AGD” pinta dr. Agus.
”Siap dok!” balas suster Diana sangat tegas.
”Bu Maria, ibu harus diuap lagi, mungkin sekali atau dua kali, tergantung perkembangannya nanti. Ibu yang sabar ya, mudah-mudahan cepat membaik”
”Iya dok, terimakasih” sahut bu Maria.
Dokter Agus segera menuju kembali ke ruang perawat untuk menulis lembar follow up dan resep. ”Tolong resepnya sus” dokter Agus mengulurkan tangannya meminta resep.
”Ini dok” suster Diana memberikan secarik kertas resep.
Dalam sekejap, resep sudah jadi ”Tolong kasih keluarganya” pinta dr. Agus seraya menyodorkan resep ke Diana, tanpa menunda lagi suster Diana langsung ke kamar bu Maria.
”Malam bu, ibu keluarganya?” tanya suster Diana kepada ibu yang sejak sore mendampingi bu Maria.
”Iya sus, kenapa?” ibu itu balik bertanya.
”Ibu, ini ada resep yang harus dibeli, sekarang” suster Diana menjelaskan.
”Beli?” ibu itu kebingungan. ”Dokter tadi bilangnya EKSTRA, kok harus beli?”
”Ibu, kalau di rumah sakit, ekstra itu maksudnya pemberian obat diluar jadwal atau tambahan obat yang dipakai sekali saja. Ekstra bukan berarti gratis, emangnya di toko?”
”Oo.., begitu to maksudnya, saya kira gratis, maaf sus, maklum aja udah tua”.
Setelah menyerahkan resep suster Diana segera kembali ke ruang perawat.
”Diana sendiri? Yang lain pada kemana?” tanya dr Agus.
”Berdua dok, Endang lagi keluar beli pulsa” jawab Diana sambil mencuci tangan.
Endang adalah teman akrabnya Diana, kemanapun mereka selalu berdua.
”Ada yang ga masuk?”
”Heni, anaknya panas, tadi baru datang langsung pulang. Ga ada yang gantiin sampai sekarang” jelas suster Diana.
”Kriing, kriing” telepon berbunyi.
”Kenanga, selamat malam, dengan suster Diana, ada yang bisa di bantu?” Sapa Diana di telepon.
”Selamat malam. Bisa berhubungan?” sapa yang di balik telepon.
”Berhubungan dengan siapa mas?” sahut Diana.
”Berhubungan dengan dr. Agus, ada?”
”Ada, sebentar ya”. Seraya menyerahkan gagang telepon ke dr. Agus. ”Dok ada telepon, kayaknya dari UGD. Dokter jaga dobel ya?”
”Iya, dr. Arin lagi keluar kota, nanti malam yang gantiin baru datang” jawab dokter Agus sambil menerima gagang telepon. ”Kenapa?” tanyanya di telepon.
”Pasien baru datang dok, KLL, multiple trauma, KUnya jelek”.
”Ya udah, tunggu” telepon segera ditutup.
Dokter Agus segera menuju ke UGD, tanpa basa-basi ke suster Diana lagi, dia langsung meninggalkannya begitu saja, pikirannya sudah tersita untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada pasien multiple trauma. Mungkin CKB, pendarahan intra abdomen, pneumo hematotorax, trauma tulang belakang, syok hemoragik, compartemen sindrom dan kemungkinan lain yang masih banyak. Sesampainya di ruang tindakan UGD, dr Agus segera memakai masker, kaca mata (google), apron plastik, sepatu boot dan sarung tangan karet, lalu memeriksa pasiennya yang tergolek di brankar sudah terpasang infus dan oksigen.
”Namanya siapa?” tanya dr.Agus ke pasiennya.
”Eh,..Eh...” pasiennya mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
”Tensi?”
”Delapanpuluh Empatpuluh” suster Lili menjawab.
”Nadi?”
”Seratus empat puluh”
”RR?”
”Tigapuluh enam, torakal”
”Infus?”
”RL loading, sudah masuk empatratus”
“Pasang dua line, jarum besar. Loading RL duaribu. Pasang Cateter, DKI” pinta dr. Agus.
Dengan sangat cekatan, dua perawat segera melakukan apa yang diinginkan dr. Agus.
Dr Agus segera melanjutkan pemeriksaannya. Dia memeriksa dada pasien yang mengembang simetris, tidak ada gerakan yang tertinggal, lalu mendengarkan suara paru, kedua paru sama, vesikuler, tanpa ronkhi. Lalu mendengarkan suara jantung, suara jantung satu dan dua normal, reguler, tidak ada bising. Saat memeriksa daerah perut dia menemukan jejas di perut kiri atas, membesar, tegang, nyeri bila ditekan.
”Pendarahan intra abdomen, periksa laboratorium lengkap, urine lengkap, jangan lupa Hb serial perjam” pinta dr Agus lagi.
”Harus konsul bedah, dokter jaganya siapa?” tanya dr. Agus.
”Dokter Asmon kayaknya dok” jawab suster Lili.
“Tolong dihubungi, saya mau konsul”
“Ya, dok”
“Keluarganya mana?”
Remaja yang tadi mengantarnya hanya bengong dengan diliputi rasa takut dan bingung.
“Masnya keluarganya?” tanya dokter Agus sambil menunjuk remaja tadi.
“Saya hanya temannya dok, saya belum pernah ke rumahnya” jawabnya.
“Nama pasiennya siapa?”
“Panggilannya sih Sableng, kalo nama aslinya saya kaga tahu”
“Lho, kamu gimana sih nama temennya ga tahu. Tahu nomer telpon rumahnya ga?”
“Ga tahu dok, saya hanya tahu nomer HP dia saja”
“Ada KTPnya?”
“KTP saya ?”
“KTP pasiennya dong”
“KTPnya tadi diambil ama Pak Polisi dok, katanya dia nanti mau kesini”
“Kalau nama kamu sendiri siapa?”
“Nama saya Ujang dok”
Sementara itu dokter Asmon sudah sampai di IGD.
“Selamat malam dok” Sapa dokter Agus. “ Ini dok, ada pasien Syok hemoragik, suspek pendarahan intra abdomen”.
Tanpa banyak bicara dokter Asmon langsung memeriksa si Sableng. Dia memang terkenal dokter yang pendiam, namun punya segudang pengalaman dan hampir sembilan puluh sembilan persen diagnosanya selalu tepat.
“Benar dok, ruptur lien, harus segera dibuka.Tolong kasih tahu keluarganya, siapkan darah minimal satu liter, kalo lebih ga apa-apa” dokter Asmon menjelaskan. “Urinnya berapa?”
“Belum ada dok” jawab dokter Agus.
“Loading dulu sampai dua liter, nanti lapor saya lagi” pinta dokter Asmon
Dokter Asmon langsung ngeluyur pergi, entah kemana, sepertinya ada suatu pekerjaan yang harus dikerjakannya, sementara itu dokter Agus beserta petugas IGD sibuk mengurusi si Sableng. Suster Mela mengambil sampel darah lalu menaruhnya di tiga buah tabung reaksi, ketiganya diberi label nama, kemudian menyerahkannya kepada Ujang.
“Yang tabung ini dan ini ke Laboratorium, yang ini ke PMI”
“Ya sus” jawabnya, sambil mengangguk.
“Ngerti ga?”
“Iya, yang ini ke PMI, yang ini dan ini ke Laboratorium” dia mengulangi apa yang sudah diterangkan suster Mela.
“Ya udah cepetan”

Sesampai di PMI.
“Selamat malam, permisi” si Ujang memberi salam. Namun belum ada jawaban dari dalam loket. “Selamat malam, permisi” kali ini lebih keras lagi.
“Ya pak, tunggu sebentar” sahut yang dari dalam loket. Seorang petugas keluar dari balik gordin. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan sangat ramah.
“Saya mau minta darah mbak”
“Mana pengantarnya?”
Ujang langsung menyerahkan pengantar dan tabung yang berisi sampel darah “Ini mbak”
“Darahnya mau diperiksa dulu, Masnya silakan duduk, nanti dipanggil lagi” sambil menunjuk ruang tunggu, kemudian dia langsung masuk ke ruang laboratorium lagi. Beginilah suasana PMI, kalau malam hari tidak ada petugas informasi atau resepsionis, yang ada hanya petugas laboratorium, sopir dan Satpam.
Tidak berapa lama kemudian.
“Keluarga Sableng” petugas yang tadi memanggil.
“Ya mbak” sahut Ujang.
“Ini benar, namanya Sableng?” tanya petugas agak heran.
“Itu nama panggilannya mbak, nama aslinya saya tidak tahu”.
“Ya sudah, siapapun namanya, begini mas. Darah ini hanya tinggal satu kantong, padahal mintanya empat kantong, jadi tolong mas mencari donor darah pengganti” petugas PMI menjelaskan. Donor darah pengganti adalah istilah untuk donor darah langsung, dimana darah dari pendonor langsung diberikan kepada pasien tertentu, berbeda dengan donor darah sukarela, diamana pendonor tidak tahu darahnya akan dipakai oleh siapa.
“Harus mencari kemana saya mbak?”
“Mas, mas siapa namanya?”
“Ujang”
“Mas Ujang bisa menghubungi keluarga atau teman-temannya”
“Saya ga tahu keluarganya mbak, saya hanya temannya, teman nongkrong aja”
“Terserah mas Ujang, kesiapa aja boleh yang penting dapat pendonor”
”Iya mbak, terimakasih”
”O iya, jangan lupa golongan darahnya AB”
”Iya mbak”
Ujang mengeluarkan HP dari sakunya, dan mencoba menghubungi teman-temannya. Tapi hasilnya nihil, beberapa temannya tak bisa dihubungi, dan beberapa golongan darahnya bukan AB. Memang susah mencari golongan darah AB.
”Mbak..., permisi” Ujang mencoba memanggil petugas.
”Kenapa lagi mas?” tanya petugas agak jengkel.
”Mbak siapa namanya?’ tanya ujang.
”Ningsih, emangnya kenapa?”
”Maaf mbak Ningsih, saya sudah coba menghubungi teman-teman saya, tapi ga ada yang bisa mendonorkan darahnya. Kebanyakan golongan darahnya O. Saya mo minta tolong ke mbak Ningsih untuk bantu cari pendonor. Bisa kan mbak?” Ujang meminta dengan sungguh-sungguh.
”Coba saya carikan dulu, mungkin ke PMR, KSR, TSR atau donor darah sukarela, mas Ujang tunggu saja”, jawab Ningsih memberi harapan kepada Ujang.
Untung saja malam ini permintaan darah lagi sepi, jadi para petugas PMI tidak terlalu sibuk melayani permintaan darah. Ningsih mulai sibuk membuka-buka beberapa buku daftar anggota pendonor darah sukarela dan beberapa kali dia menelepon. Hasilnya, Ningsih sudah mendapatkan dua calon pendonor darah, dan mereka bersedia untuk datang malam ini juga. Tapi masih butuh satu pendonor lagi. Ningsih mencoba menghubungi pak Iyan lewat telepon.
”Selamat malam, bisa bicara dengan pak Iyan?” sapa Ningsih di telepon.
”Selamat malam, ada,dari mana?”
”Dari PMI bu”
”Tunggu sebentar ya...”
Kebetulan sekali yang menerima telepon adalah isterinya pak Iyan.
” Pak, ada telepon tuh, dari PMI” Bu Iyan memanggil suaminya yang sedang menyiapkan pakaian untuk upacara penghargaan donor darah sukarela. Pak Iyan segera bergegas menuju ke meja telepon, dia sangat yakin ini pasti mengenai penghargaan terebut.
”Hallo, pak Iyan nih, dengan siapa?” pak Iyan bertanya di telepon.
”Selamat malam, dengan Ningsih pak, maaf mengganggu. Pak ada yang lagi butuh darah AB, pak Iyan bersedia ga untuk diambil darahnya malam ini?’ pinta Ningsih. Dia sebenarnya sudah tahu kalau besuk pagi pak Iyan akan donor darah di istana di depan presiden.
Pak Iyan berpikir sejenak, kalau dia donor sekarang, berarti besuk pagi dia tidak bisa mendonorkan darahnya di istana, padahal kesempatan itulah yang dia tunggu-tunggu selama sepuluh tahun ini.
”Maaf, mbak Ningsih, bukannya saya ga mau, coba cari yang lain ya”
Ningsih sudah bisa menebak jawaban pak Iyan, memang kesempatan itu sangat langka, dan Ningsihpun tidak mau mencoba mebujuk pak Iyan lebih lanjut.
”Ya udah pak, terimakasih. Selamat malam pak Iyan”
Sementara di UGD dr Agus beserta perawat sibuk merawat si sableng.
”RL sudah masuk berapa ?” tanya dokter agus.
”Baru tiga kolf dok” jawab suster Lili.
”Tensi”
”Sembilanpuluh enempuluh”
Dokter Agus agak lega karena tekanan darah si Sableng mulai membaik. Namun itu hanya sementara karena sumber pendarahan yang di dalam perut masih berlangsung.
Tiba-tiba dr Asmon sudah berada di depan dr Agus.
“Dok, mau dibuka sekarang?” tanya dr Agus kepada dr Asmon
Dokter Asmon terdiam, dia sedang memikirkan kemungkinan yang terjadi selanjutnya. Keadaan seperti ini menjadi dilema yang sangat berat bagi seorang dokter, pilihan yang serba tidak menyenangkan, bagai makan buah simalakama. Jika operasi ditunda pasien akan mati, jika dilakukan sekarang kemungkinan pasien bisa meninggal di atas meja operasi.
“Ada keluarganya?” tanya dr Asmon
“Ga ada dok, yang ada Cuma temennya, dia lagi ambil darah ke PMI” sahut Suster Mela.
“Kalau keluarganya datang, tolong nanti dijelaskan keadaan pasiennya” pinta dr Asmon.
“Baik dok” jawab suster Mela sambil menangguk.
Dr. Asmon berjalan menuju kamar operasi. Baru beberapa langkah dia berjalan, dia langsung berhenti matanya menatap keatas seolah sedang memikirkan sesuatu, dia langsung berbalik lagi menuju ke suster Mela.
”Sus, kalau darahnya sudah ada tolong kirim pasiennya ke kamar operasi” pinta dr. Asmon.
”Iya dok, tapi bagaimana dengan keluarganya dok? SIOnya juga belum” tanya suster Mela.
”Kalau kita nunggu keluarganya datang, pasiennya keburu mati. Kalau kita tangani sekarang Insya Allah masih ada harapan, kalaupun mati diatas meja operasi paling tidak sudah ada usaha dari kita untuk menyelamatkan dia. Dalam keadaan emergensi seperti ini tidak perlu ada SIO yang penting kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyelamatkan pasien” dr. Asmon menjelaskan.
”Siap dok” jawab suster Mela.

____*____

Sementara di rumahnya pak Iyan sibuk membereskan baju yang akan dibawa ke istana. Dia sudah menyiapkan baju batik coklat dengan motif burung merak dan celana panjang warna krem. Dia juga mempaersiapkan stelan jas hitam dan baju putih beserta dasinya yang baru dia beli di Lippo Supermall.
”Buuuu...!” pak Iyan berteriak sambil mencari-cari sesuatu, satu persatu tas plastik yang ada didepannya dibuka.
”Buuu.. kaos kaki bapak kemana?” ternyata pak Iyan mencari kaos kaki Mundo kesayangannya.
”Ya disitu to pak, masa kaos kaki jalan-jalan” sahut bu Iyan sambil menunjuk tumpukan baju yang sudah dibereskannya.
”Ding dong ding dong!” Tiba-tiba bel pintu rumah berbunyi.
”Ada tamu pak, sana dilihat dulu” pinta bu Iyan. Hampir tiap hari rumah pak Iyan selalu kedatangan tamu dan tiap kali tamu datang hampir selalu mencari pak Iyan, makanya bu Iyan malas membukakan pintu.
Pak Iyan bergegas membukakan pintu, tidak biasanya kali ini yang berkunjung kerumahnya adalah seorang polisi berseragam lengkap.
”Selamat malam, saya Budiarto dari Polsek Jatiuwung, apakah benar ini rumahnya Andi?” pak Budi memperkenalkan diri.
”Benar Pak, ada apa Pak?” pak Iyan bertanya penuh kecemasan. Dalam pikirannya sudah berkecamuk ada apa dengan anaknya semata wayang. Mungkinkah anaknya beurusan dengan kejahatan? Narkoba?
”Bapak orang tuanya Andi?” tanya pak Budi,
”Iya pak, saya orang tuanya. Saya pak Iyan, Ada apa dengan anak saya pak?”
”Boleh saya masuk rumah?” pak Budi mencoba menenangkan suasana.
”Oh iya pak, silakan. Maaf sampai kelupaan mempersilakan masuk. Silakan duduk pak” pak Iyan mempersilakan pak Budi.
Pak Budi langsung mengambil tempat duduk.
“Begini pak Iyan, tadi sore anak bapak si Andi mengalami kecelakaan, tabrakan antara motor dengan motor, saat ini dia sedang dirawat di Rumah Sakit Umum”
“Sekarang keadaannya bagaimana pak?”
“Sebaiknya bapak langsung saja ke Rumah sakit, biar pihak rumah sakit yang langsung menjelaskan”
“Baik pak, terimakasih informasinya”
“Mengenai motornya, sudah kami amankan di kantor, bapak tidak usah kawatir, yang penting bapak ke rumah sakit saja dulu. Saya permisi pak, tolong tanda tangan disini pak, sebagai tanda bukti bahwa saya sudah berkunjung ke sini” pinta pak Budi sambil menyodorkan buku dan pulpen.
“Terimakasih pak, saya akan segera ke rumah sakit”
Pak Budi segera meninggalkan rumah pak Iyan.
Wajah pak Iyan tampak kalut, dia sangat sayang sekali pada Andi, maklum dia adalah anak satu-satunya.
”Bu, kita Ke rumah sakit sekarang, Andi kecelakaan, sekarang dirawat disana” pak Iyan memberitahu isterinya tanpa kata pengantar sedikitpun.
”Apa?! Andi kecelakaan? Bapak tahu dari mana?!” bu Iyan belum percaya.
”Tadi barusan Polisi kesini memberi tahu” pak Iyan menjelaskan.
”Andiiiii, anakku...” bu Iyan berteriak sekerasnya sambil menangis sejadi-jadinya.
Pak Iyan hanya bisa memeluknya erat-erat, mereka berdua sedang dirundung kesedihan dan kecemasan, mereka takut kehilangan Andi.

____*____
”Ini sus Darahnya” si Ujang menyerahkan tiga kantong darah kepada suster Mela.
”Cuma tiga?”
”Iya sus, di PMI memang Cuma ada tiga, tadi cari donor belum dapat”
”Ya udah, kamu jangan kemana-mana tungguin disini, kalau ada apa-apa kamu yang harus bantuin”
”Iya sus” si ujang tampak cemas dia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat, dia hanya bisa memandangi wajah temannya yang semakin pucat.
” Dokter Agus, darahnya udah ada, mau dipasang sekarang?” suster Mela minta persetujuan dokter Agus.
”Tahun depan kali ya” dokter Agus masih bisa mengajak bercanda. ”Hubungi dr. Asmon, kasih tahu kalau darahnya udah ada” pinta dr Agus pada suster Lili.
Darah pun segera dipasang, tetes demi tetes darah mengalir kedalam tubuh si Sableng, sementara kebocoran darah di dalam perutnya tak akan berhenti sebelum dilakukan operasi. Perutnya tampak makin membesar, bibirnya semakin pucat, kesadarannya semakin menurun. Hanya terkadang masih terdengar rintihan kesakitan. Si Ujang hanya bisa mengusap-usap rambut temennya ini.
Sementara dr Asmon sudah siap di kamar operasi bersama dr Arul sebagai dokter anestesinya. Suster Mela segera membawa si Sableng menuju kamar Operasi.

Tidak lama kemudian pak Iyan sudah sampai di ruang tunggu IGD.
”Selamat malam pak, ada yang bisa saya bantu?” Seorang Satpam berseragam lengkap menyapa pak Iyan dengan sangat sopan, dia adalah pak Arnold, yang kebetulan sedang tugas jaga malam itu.
”Selamat malam pak, saya Arnold petugas Satpam Rumah sakit ini, saya siap membantu bapak” pak Arnold mengulangi salamnya.
Pak Iyan masih tampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu, melihat kesana kemari.
”Bapak mencari seseorang?” tanya pak Arnold.
”Eh... anak saya dirawat dimana pak ya?” pak Iyan masih tampak kebingungan.
”Namanya siapa, sakitnya apa, masuknya kapan”
”Namanya Andi, kata polisi dia kecelakaan lalu di bawa ke rumah sakit ini” pak Iyan mencoba menerangkan.
”Malam ini hanya ada satu pasien yang kecelakaan, namanya panggilannya Sableng, namanya lengkapnya belum tahu” pak Arnold menjelaskan.
”Sekarang pasiennya dimana pak, saya mau melihat, sapa tahu itu anak saya” pinta pak Iyan tak sabar.
”Saat ini pasiennya sedang dioperasi pak, mungkin bapak kenal dengan temannya, saat ini dia sedang menunggu di depan kamar operasi. Mari saya antar pak”
Pak Arnold mengajak pak Iyan beserta isterinya menuju ruang tunggu di depan kamar operasi.
”Ini pak temannya” kata pak Arnold sambil menunjuk si Ujang ”Bapak kenal dengan anak ini?”
Pak Iyan hanya menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba pak Budiarto datang dan langsung melihat ke arah pak Iyan
"Bapaknya Andi kan. Cepat sekali bapak sampai di sini? Sudah bertemu dengan Andi?"
Pak Iyan segera bergegas menghampiri pak Budiarto.
"Dimana anak saya pak?" tanyanya
Pak Budi bukannya langsung menjawab namun pandangannya langsung beralih menuju kearah Arnold. Pak Arnold langsung tanggap "Pasiennya sedang dioperasi, tadi datang dengan nama Sableng karena dia dan yang mengantar tidak menunjukkan identitas, katanya KTPnya masih dibawa polisi."
"Benar pak, KTP masih saya bawa" kata pak Budiarto seraya menunjukkan KTP Andi.
Tiba-tiba pintu kamar operasi terbuka.
"Keluarga Sableng..." seorang suster berseragam hijau memanggil.
"Iya sus" si Ujang menjawab "Nama aslinya Andi sus, dan ini orang tuanya"
"Bagaimana keadaan anak saya sus" Pak Iyan langsung bertanya
"Emmm... saat ini sedang dilakukan operasi, keadaannya lumayan berat, seandainya tadi ada satu kantong darah lagi mungkin keadaannya tak seberat ini" suster itu menjelaskan.
Seketika itu pula badan pak Iyan terasa lemas lunglai, ingatannya langsung tertuju pada Ningsih, petugas PMI yang menelponnya, mungkinkah darah itu untuk Andi anak satu-satunya. Penyesalan yang sangat dalam tampakpada raut mukanya yang mulai menua, air mata penyesalan mulai mengalir deras keluar dari sudut kedua matanya.
Semua sudah terjadi, hanya penyesalan yang tersisa.
Saat itu pula, pak Iyan langsung mendonorkan darahnya, dia tidak peduli lagi dengan undangan Presiden.
Andi dirawat selama 14 hari di Rumah Sakit, dan sembuh seperti sedia kala. Pak Iyan tetap menjadi donor darah yang rajin menyumbangkan darahnya.

TAMAT



BUKAN TEMAN BIASA

BUKAN TEMAN BIASA
Oleh. Dr. Djoko Santoso

“Bapak Zakaria” suaraku lantang memanggil salah seorang pasien di Puskesmas. Pak zakaria segera berdiri dari tempat duduknya dengan agak susah payah sambil berpegang pada tongkat yang selalu menemani kemanapun dia pergi, lalu berjalan perlahan menuju kamar periksa.
“Silakan duduk pak, gimana kabarnya?” aku menyapa.
“ Baik dok” jawbnya, sambil menggeser kursi plastik warna hijau lalu mendudukinya.
“Masih pusing, obat yang merah masih ada” pak Zakaria mengeluh, tanpa dipinta dia langsung mengulurkan tangan kanannya untuk dilakukan pemeriksaan tekanan darah. Pak Zakaria adalah salah seorang pasien yang paling rajin berkunjung ke Puskesmas, hampir seminggu dua kali, dia adalah pasien psikosis yang terkontrol, dia sudah hafal dengan obat yang diminumnya. Obat merah yang dia maksud adalah Chlorpromazine, dia merasa nyaman bila minum obat itu. Jika tidak minum dua hari saja dia merasa ada makhluk halus yang mendatangi, bahkan orang-orang yang sudah meninggal sering datang pada malam hari, dia bisa mengobrol dengan mereka sampai subuh, siang harinya dia akan merasa sangat mengantuk dan sangat mengganggu kegiatan sehari-harinya.
“Seratus delapanpuluh per seratus, masih tinggi pak”
“Minta obat darah tinggi ama obat pusing aja, obat yang merah masih ada”, pak zakaria meminta. Aku segera menuliskan resep untuknya.
Aku adalah seorang dokter yang sedang menyelesaikan tugas PTT (Pegawai Tidak Tetap) di salah satu Puskesmas di pinggir kota. Sudah dua tahun aku mengabdi, banyak kisah sukanya dibanding dukanya. Ada juga kisah yang lucu.
“Pak De !” seseorang memanggilku, aku segera menoleh kearahnya. Pak De adalah nama panggilanku, entah mengapa banyak staf yang suka dengan nama panggilanku itu, mungkin saja nama itu tercipta dari nama asliku DEWA BUANA, dengan awalan DEWA di depan nama lengkapku sehingga tercipta De, atau bisa juga Dokter Dewa, apa lagi asalku dari Solo rasanya pas banget nama PakDe itu untukku, yah itu bisa-bisanya mereka saja.
“Kenapa?” tanyaku.
Maya hanya memberi senyuman, entah apa maksudnya
“Kenapa ?!” nadaku sedikit tinggi.
Dia tetap saja tersenyum dengan sedikit menggoyang-goyangkan kepalanya. Aku cuekin aja, aku melanjutkan memeriksa pasien yang lainnya.
Tidak terasa waktu sudah jam 11.30 WIB, pasien sudah habis, hari ini lumayan banyak hampir 70 pasien yang aku periksa, capek, inilah kerja, melayani orang yang membutuhkan pertolongan.
“May, udah makan?”. Maya adalah salah seorang yang cukup dekat denganku, dia seorang perawat yang cukup rajin, sudah lebih dari satu tahun aku mengenalnya, walaupun lebih muda dariku tapi pemikirannya sudah bisa dikatakan sangat dewasa dan matang. Karenakedewasaannya itu dia paling enak kalau diajak berdiskusi, tapi sayang dibalik itu semua dia adalah isteri yang kurang beruntung. Suaminya seorang pengusaha yang lumayan sukses namun kurang perhatian kepada keluarga, dia sering mabuk, dugem, judi, nyawer dan tidak segan-segan membawa teman perempuannya ke rumah. Sebagai seorang isteri pasti hal itu sangat menyakitkan, tapi Maya tetap tegar menghadapi itu semua, dia tetap yakin bahwa suatu saat suaminya akan berubah.
“Belum” jawabnya singkat.
“Makan yuk” aku mengajaknya, sudah sering aku mengajaknya makan bersama, banyak yang mengira aku berpacaran dengannya, tapi bagiku anggapan itu tidak benar, kami hanya teman biasa. Biasa makan bersama, biasa berdiskusi bersama, biasa jalan bersama. Menurutku apa yang kami lakukan masih dalam batas kewajaran, tapi mengapa mereka beranggapan seperti itu?
“Ayo!” jawabnya singkat. Kami segera menuju rumah makan padang yang ada di belakang Puskesmas. Kami sering makan di sini, penjualnya bahkan udah hafal kesukaan kami. Maya paling suka makan dengan daging tunjang, kalau aku suka dengan paru goreng.

Waktu terus berlalu, dari hari ke hari aku semakin dekat dengan Maya, aku merasa lebih nyaman jika selalu bersamanya. Aku menemukan tempat berkeluh kesah, tempat memecahkan masalah, aku merasa mulai bergantung dengan kehadirannya. Aku mulai jatuh cinta padanya. Aku mulai berpikir, benar anggapan mereka yang menganggap aku berpacaran dengannya.Aku tahu apa yang aku lakukan adalah salah, tidak benar aku mencintai orang yang sudah dimiliki oleh orang lain. Tapi aku tak mampu melawan akal sehatku, aku egois, yang aku inginkan adalah bersamanya. Sampai saat ini aku tidak tahu apakah Maya juga merasakan hal yang sama, pernah ada keinginan mengungkapkan perasaanku padanya, tapi aku takut dia tersinggung aku takut kehilangan dia.

Suatu hari aku piket siang bersamanya, jam sudah menunjukkan jam 13.00, tapi masih ada beberapa pasien yang harus diperiksa, secara tak sengaja kami mengambil catatan status secara bersamaan, dan tanpa sengaja aku memegang tangannya, kami pun saling berpandangan, entah setan darimana yang merasuki otakku, aku sengaja memegang tangannya lebih erat, bukan penghindaran yang aku dapatkan tapi balasan genggaman yang lebih hangat, hatiku berdesir, jantungku berdetak cepat. Aku bingung, ini anugrah atau petaka? Aku ingin dekat dengannya, aku ingin memilikinya tapi........ “Kriing.....kring.......!” HP Maya berbunyi, dia segera melepaskan genggamannya lalu menjawab panggilan.
“Hallo, selamat siang”
“Selamat siang, bisa bicara dengan ibu Maya?”
“Iya, saya sendiri, dari mana Pak?”
“Saya pak Budi, Satpam Rumah Sakit Umum. Apakah benar ibu Maya suami dari pak Yanto?”
“Benar pak, ada apa dengan suami saya?!” tanya Maya tampak panik.
“Suami ibu kecelakaan, Ibu segera ke rumah sakit saja, segera, nanti biar dokter yang menjelaskan.”
Maya sudah tidak mampu menjawab, kepalanya serasa berputar, pandangannya gelap, HP yang ada digenggamannya terjatuh, perlahan tubuhnya lunglai, lalu “Bruk...! tubuhnya tersungkur ke lantai. Dengan sekuat tenaga aku segera mengangkatnya dan memindahkannya ke ruang KIA (Kesehatan Ibu Anak). Beberapa bidan dan perawat segera membantu mengurus Maya. Dari pembicaraan dia di telephone aku bisa menebak pasti ada apa-apa dengan keluarganya.
Aku segera mengambil HP Maya yang terjatuh, lalu aku mencoba melanjutkan pembicaraan.
“Maaf, saya dokter Dewa, saya bicara dengan siapa?”
“Saya pak Budi, dari RSU. Dokter Dewa siapanya bu Maya?”
“Bu Maya adalah teman dekat saya, ada apa dengan dia pak?”
“Begini dok, suami bu Maya tadi kecelakaan, saat ini sudah meninggal, jenazahnya masih ada di IGD RSU, diharapkan, keluarga segera ke RSU untuk mengurus jenazahnya”
“Iya pak, terimakasih” tanpa basa basi lagi aku segera menutup telephonnya.
Pikiranku semakin tak karuan, ini adalah kesempatanku untuk memilikinya. Saat dia sudah tidak ada yang memilikinya lagi. Aku memang egois, jahat, bahkan sangat jahat, saat Maya dirundung duka kehilangan suaminya, aku justru bersorak, keinginanku bakal segera terwujud untuk memiliki Maya seutuhnya.)*****
“Kriing....kriing....!” HP Maya berdering, aku segera mengangkatnya.
“Halo, selamat Siang”, sapaku
”Selamat siang, saya pak Budi dari RSU, dengan ibu Maya?”
”Bukan, saya dokter Dewa, temannya bu Maya”.
”Maaf dokter Dewa, tadi....tut...tut...tut” pembicaraan terputus, ternyata HP Maya mati, habis baterei.
Aku, Maya dan beberapa staf puskesmas segera berangkat ke RSU menggunakan ambulance puskesmas, dengan harapan bisa lebih cepat sampai. Sepanjang perjalanan Maya menangis tiada hentinya. Beberapa staf berusaha membujuk dan menghiburnya, namun tangis Maya tak bisa dibendung, air matanya terus saja mengalir. Begitu cintakah dia terhadap suaminya yang suka selingkuh itu? Aku jadi cemburu, seandainya saja cinta Maya itu untukku, pasti aku akan membalasnya dengan rasa cinta yang lebih besar dari itu.
Sementara itu di RSU, pak Budi terlihat sibuk, memencet-mencet telephon mukanya tampak panik, bolak-balik dia menghubungi, tapi yang dia dapat hanya nada sibuk atau suara operator seluler ”Telepon yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan area, cobalah beberapa saat lagi”.
Seasampainya di depan IGD RSU.
Aku segera turun menuju meja resepsionis yang bersebelahan langsung dengan meja Satpam.
”Selamat siang mbak” aku menyapa seorang resepsionis, perempuan muda yang lumayan manis.
”Selamat siang pak, saya Lika, resepsionis di sini, saya siap membantu bapak” suaranya begitu lembut, selembut raut wajahnya.
”Saya dokter Dewa, temannya ibu Maya, baru saja saya mendapat kabar kalau pak Yanto, suaminya bu Maya meninggal dunia di rumah sakit ini”
”Tunggu sebentar ya dok” Lika segera berjalan menuju meja Satpam untuk konfirmasi kabar tersebut. Kemudian mereka bersama menuju ke arahku.
”Selamat siang dok, saya pak Budi yang tadi memberitahu dokter lewat telepon” pak Budi memperkaenalkan diri.
”Maaf dok, ada sedikit misinformasi yang tadi saya sampaikan, saya mencoba menghubungi HP bu Maya berkali-kali tapi HPnya tidak aktif’ dia melanjutkan, aku mencoba untuk bersabar sampai pak Budi menyelesaikan pembicaraannya, dari nada pembicaraanya dan raut wajahnya dia tampak sungguh-sungguh menyesali apa yang telah dia sampaikan.
”Begini dok, tadi barusan ada dua pasien yang masuk, yang satu bernama Ariyanto dan satunya lagi Hariyanto, ternyata yang meninggal adalah bapak Ariyanto, bukan bapak Hariyanto suaminya bu Maya”
Mendengar penjelasan itu, aku agak kesal tapi dibalik kekesalan itu ada berita yang bisa membahagikan Maya, paling tidak suami Maya masih hidup.
”Dimana pak Hariyanto sekarang?” aku tak sabar ingin segera melihat kondisi pak Yanto. Kemudian pak Budi membawa kami ke ruang observasi. Di ruang itu memang ada dua pasien, yang satu adalah Aryanto, jasadnya sudah ditutup kain dari ujung jari kaki sampai ujung rambut, menandakan bahwa pasien ini sudah meninggal, sementara di sebelahnya ada pak Yanto suami Maya, beberapa bagian tubuhnya dibalut kasa putih dan pada bagian paha dibidai dan tampak darah segar masih menetes. Di hidung tampak selang oksigen dan selang NGT terpasang, ada cairan kehitaman keluar dari selang NGT. Menurut penjelasan dokter jaga IGD, pak Yanto mengalami multiple trauma, yang terberat adalah cidera kepala dan patah tulang belakang, yang nantinya akan menyebabkan kelumpuhan permanen. Hari ini pak Yanto harus segera menjalani operasi dan selanjutnya akan dirawat di bagian ICU.

Sudah dua minggu berlalu, Maya belum masuk kerja, aku merasa sangat kesepian berada di puskesmas. Setiap pulang dari puskesmas aku selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah sakit menemui Maya.
”May, Bapak sudah menanyakan kamu”
Bapak adalah sebutan untuk kepala puskesmas di tempat kerjaku, Maya pasti sudah tahu apa maksud pembicaraanku.
”Iya, Insya Allah minggu depan aku mulai masuk” jawab Maya.
Mendengar jawaban seperti itu aku sangat senang, berarti minggu depan aku sudah bisa bersama lagi dengan Maya, semangat kerjaku kembali berkobar.

Maya mulai masuk kerja, dia tetap tampak cantik seperti biasanya, tidak tampak kesedihan dari roman wajahnya, senyumnya selalu menyambut siapa saja yang dia temui, itulah Maya, seorang wanita yang matang, lelaki normal pasti ingin memilikinya. Bersama Maya hari berlalu begitu cepat.
”May, makan yuk” aku mengajaknya penuh semangat.
”Maaf dok, aku masih kenyang, nanti aja makan di rumah sakit” jawabnya.
Tidak seperti biasanya, baru kali ini Maya menolak ajakanku, tapi aku bisa mengerti dan memahami perasannya. Aku pun mengurungkan niatku untuk makan siang.
”Kapan mau ke rumah sakitnya?” tanyaku.
”Sebentar lagi dok, jam satuan, nunggu adik dulu, dia mau jemput” jawabnya.
Nunggu adik? Berarti aku tidak bisa mengantarnya, aku tidak bisa bersamanya. Aku mencoba untuk merayunya.
”Bagaimana kalau saya antar saja? Ga pa pa kan?”
”Boleh aja” jawabnya. Sebuah jawaban yang sangat aku nantikan.
Maya segera menghubungi adiknya agar dia tidak perlu menjemputnya ke puskesmas.
Sekitar jam satuan aku berangkat ke rumah sakit bersama Maya. Selama di dalam mobil kami lebih banyak diam, tiba-tiba...
”Dok, boleh Maya bertanya?” sambil menoleh kearahku. Ini adalah hal yang janggal bagiku, tiba-tiba Maya bertanya seperti itu, pasti ada sesuatu yang sangat penting.
”Emh...emh...boleh” jawabku.
”Dokter jangan marah ya? Kalau pertanyaanku agak aneh”
”Apaan sih... aku ga akan marah, swear” aku penasaran.
”Dokter suka sama saya?”. sebuah pertanyaan yang sangat sederhana tapi sangat menusuk, sebuah pertanyaan dengan jawaban yang sangat susah untuk diungkapkan. Aku terdiam mencoba untuk mencari jawaban yang mudah untuk diungkapkan, namun lidahku serasa terkunci, mulutku terbungkam oleh perasanku. Aku menghela nafas panjang....
”Ya” jawabku singkat.
Aku menoleh ke arahnya melihat bagaimana reaksi Maya dengan jawabanku. Matanya tampak tajam menatap ke depan jauh, perlahan guliran air menetes dari sudut matanya dan sebuah hembusan nafas panjang keluar dari hidungnya. Ada sebuah perasaan yang berat sedang dialaminya. Akupun terdiam aku tak berani lagi berkata-kata, perasannku terasa lega namun hatiku juga ikut bergolak apa gerangan yang sedang dipikirkan Maya.apakah dia senang dengan jawabanku atau sebaliknya, hanya Maya yang tahu. Sesampai di rumah sakit aku dan Maya segera menuju ke ruang ICU, tanpa ada kata-kata, kami terlarut dalam pikiran masing-masing. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, waktu berkunjung sudah habis, untungnya aku sudah kenal baik dengan perawat jaga yang ada di ICU sehingga kami masih bisa masuk walaupun hanya diberi waktu sepuluh menit.
Pak Yanto tampak tergolek tak berdaya, koma, tampak kasa putih melingkar di kepalanya, kabel di sana sini, juga selang infus yang menancap di kedua tangannya, sebuah selang besar terpasang di mulutnya terhubung ke mesin ventilator. Maya mengusap wajah pak Yanto dengan penuh kelembutan, kembali air mata menetes di pipinya yang putih.
”Seandainya yang terbaring ini adalah isteri dokter, apa yang dokter lakukan?” tiba-tiba Maya melontarkan pertanyaan yang tidak pernah aku duga. Aku terdiam sejenak.
”Maksud Maya apa?” aku malah balik bertanya. Maya menatap ke arahku.
”Seandainya isteri dokter sakit seperti ini, apakah dokter masih setia dengannya?” Maya menjelaskan lebih detail. Sebuah pertanyaan yang langsung menancap di lubuk hati yang paling dalam. Aku masih terdiam, sebuah pertanyaan yang sangat dilematis bagiku, demi Maya, apapun yang akan terjadi aku harus jujur menjawabnya.
”Ya, aku akan tetap setia” perlahan tapi pasti aku menjawab pertanyaan Maya dengan mantap.
”Dokter Dewa adalah orang terbaik yang pernah akau kenal, aku yakin isteri dokter pasti juga setia dengan dokter, jangan sia-siakan kesetiannya, Tuhan pasti sudah memberi yang terbaik untuk dokter, dan Maya juga yakin Tuhan memberi jodoh yang terbaik untuk Maya, walaupun di mata manusia ini semua tidak adil, ini adalah jalan hidup Maya, Maya ikhlas menjalaninya” Sebuah pernyataan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, Maya begitu berani dan tegas mengatakannya, seolah-olah dia sedang menyesali nasibnya dan dia ingin menyatakan kesetiaannya pada suaminya.
”Maksud Maya apa?” aku mencoba menggali lebih jauh apa yang dimaksud Maya.
”Maya sudah dewasa, dokter juga sudah dewasa, dokter suka sama saya, saya juga suka sama dokter, menurut dokter apakah ini halal untuk kita..?"
Aku terdiam, pikiranku berkecamuk, berputar untuk membenarkan perasaanku kepadanya namun dalam hati kecilku dalam keimananku yang lemah ini masih tersisip kebenaran yang tak mungkin aku ingkari. pertanyaan itu aku ulangi dalam hatiku. Halal....??? itulah perrtanyaan yang terngiang di dalam otakku.
Aku masih mencoba menyusun kata terbaik untuk menjawabnya, aku tertunduk masih tak mampu tuk berkata-kata.
Dalam hening hanya suara oksigen dan mesin ventilator yang terus bersuara. Suara Adzan Ashar bergema dari masjid Ihdinashirotholmustaqim seolah-olah menjadi penyelamatku karena aku belum mampu menjawabnya.
"Sholat yuk" aku mengajaknya.
Maya tak menjawab, dia langsung berdiri sambil mengusap airmata yang sejak tadi mengalir perlahan dari ujung-ujung matanya.
Aku bersimpuh di dalam masjid, merenungkan semua kejadian yang aku lalui bersama maya. Semua begitu indah, semua begitu yakin. Aku mnenemukan wanita yang begitu tegar, begitu istimewa. harus aku akui Maya bukan teman biasa.

______________
Sumber gambar :  https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEObonAx39ov8VOmcibxRb9TujTj5naYZ3r3rTxhq5PAPCjOKnkoG2dDfLYAxN8VsbGTizFRSdtJmkmVvMGOUHNfjdufzUb_MjF6GgwO4l8aLhuqrYBnTNQsW0pjQ201xVOBN0QIOcXMo/s1600/cantik-berjilbab-2.jpg


ARTIKEL APA YANG ANDA INGINKAN